Minggu, 02 Oktober 2011

…….BEKERJA…………..




Bekerja ?

Jawabannya beragam, ada yang memaknai bahwa manusia harus bekerja demi kebutuhan dan tuntutan hidup, bahwa dengan bekerja sudah pasti penghasilan akan di dapat, ada yang bilang bekerja untuk cari makan, dan ada juga bahwa bekerja adalah ibadah.

Dari jawaban yang beragam tersebut tidak ada yang salah apa yang mereka ucapkan, akan tetapi dalam memaknai kata bekerja  sebagian besar manusia masih banyak memaknai arti kata bekerja dengan salah pengertian tanpa mendalami apa sesungguhnya bekerja itu…..

BEKERJA   =          MELAYANI         =           MENGHASILKAN

Sesungguhnya inti dari bekerja adalah harus melayani apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab dari suatu pekerjaan tersebut, dalam melayani kita harus bisa menerima bukan hanya yang baik akan tetapi dengan segala kekurangan, kritik, omelan , caci maki, dan lain sebagainya demi kepuasan orang lain atau pelanggan ( customer satisfaction ) dan setelah itu penghasilan yang akan diterima setelah kepuasan pelanggan dilayani.

Seperti contoh sehari-hari yang terjadi.

“ John saya pesan mie ayam jangan pakai sambal, sausnya sedikit dan pakai daun bawang. Tolong antar ke lantai 3.

5 menit kemudian .

Tibalah mie ayam saya dengan pesanan yang berbeda, pakai sambal,sausnya banyak terus tanpa daun bawang. “ complain yang saya lontarkan. “ saya ingin sesuai pesanan.

Akhirnya datang lagi yang saya harapkan walaupun sedikit lama sekitar 10 menit karena banyak pesanan dan cukup sesak juga nafasnya karena harus turun naik dari lantai 1 ke lantai 3, langsung saya bayar tanpa menyantapnya dahulu. Karena saya berfikir bahwa yang saya pesan sudah sesuai dengan selera.





Bila kita amati hanya untuk seporsi mie ayam dengan harga 5 Ribu Rupiah, John tukang mie ayam harus rela berjuang menaiki anak tangga dari lantai 1 sampai dengan lantai 3 ditambah dengan complain yang dia terima demi kepuasan pelanggan yang akhirnya berbuah manis karena dia telah menerima uang untuk harga mie ayam tersebut.



Lantas bagaimana dengan keseharian kita.

Apakah kita sudah melayani dan memuaskan pelanggan baik  internal ( lingkup perusahaan ) atau eksternal .



Mulailah benahi perubahan tersebut.

Cerita adik dan kakak

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan diriku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!
"Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!

"Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman,menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya merengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil >yangbegitu baik..."Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya?Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah,saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya."Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimkanmu uang."Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.

Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) .

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, " Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? "Aku merasa tersentuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ..

"Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku."Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..

"Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus,seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya."Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya."Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi,batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya,dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Berkali-kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah disini."

"Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel,ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya."Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan menjadi buah bibir orang?

"Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"Mengapa membicarakan masa lalu?"Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku.Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih kepadanya adalah adikku."Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

"When life gives you a hundred reasons to cry, show life that you have a THOUSAND reasons to smile

Belajar arif dari sebuah Emas

Seorang pemuda mendatangi seorang sufi dan bertanya, “ Guru saya tak mengerti mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya seperti ini, amat sangat sederhana.  Bukankah dimasa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya penampilan tetapi untuk banyak tujuan lain.



Sang Sufi hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya lalu berkata.” Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lakukan dahulu satu hal untukku, ambilah cincin ini dan bawalah ke pasar seberang sana, Bisakah kamu menjualnya seharga “”Seratus Ribu Rupiah”” ?



Melihat cincin sang Guru yang kotor, pemuda tadi merasa ragu “ Seratus Ribu Rupiah” ? saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu…



“ Cobalah dahulu sobat muda siapa tahu kamu berhasil “



Pemuda itu bergegas ke pasar. Ia lalu menawarkan kepada pedagang kain, pedagang sayur,penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata tak seorangpun berani membeli dengan harga yang dimaksud. Mereka hanya menawar hanya sebesar Tiga Puluh Ribu sampai Lima Puluh Ribu, dan tentu saja pemuda tersebut tidak berani menjualnya. Ia lalu kembali ke padepokan dan melapor “ Guru, tak seorang pun berani membeli dengan harga Seratus Ribu, mereka hanya menawar sebesar Tiga Puluh sampai Lima Puluh Ribu saja.”



Sambil tersenyum sang Sufi yang Arif berkata “ Sekarang Cobalah kamu pergi ke toko Emas dibelakang jalan ini, coba kamu perllihatkan kepada pemilik toko  atau penjual Emas dan jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberi penilaian.”



Pemuda itu lalu pergi ketoko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada sang Sufi dengan raut wajah yang lain, ia kemudian melapor “ Guru, ternyata para pedagang dipasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas yang aku tawarkan ternyata berani menawar dengan harga tinggi yaitu “ Satu Juta Rupiah.”



Rupanya harga cincin ini Dua puluh kali lipat lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang dipasar.



Sang Sufi tersenyum sambil berujar Lirih “ Itulah jawaban atas pertanyaan mu tadi sobat muda. Seseorang tidak dinilai dari pakaiannya. Tergantung kita menempatkannya dari sudut pandang mana.



“ Emas dan Permata yang ada didalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa, diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses.” “” Wahai sobat mudaku, kita tidak bisa menilai hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas, seringkali yang disangka Emas ternyata Loyang dan yang kita lihat Loyang ternyata sebuah Emas..”””

Cermin Anak

Suatu ketika disebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama yang meriah dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana, setiap anak mendapat peran dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang mereka perankan, semuanya tampak serius sebab pak guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pementasan.

Didepan panggung semua orang tua murid ikut hadir dan menyemarakan acara itu.

Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal, ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya. Ada juga yang menjadi nelayan lengkap dengan jala yang disampirkan dibahu. Disudut sana tampak pula seorang anak dengan raut ketus, sebab dia  kebagian peran. Pak tua yang pemarah, disudut lain ada seorang anak dengan muka sedih, layaknya pemurung yang sedang menangis.



Tepuk tangan dari orang tua dan guru kerap terdengar disisi kanan dan kiri panggung.



Tibalah kini akhir dari pementasan drama, dan itu berarti saatnya pak guru mengumumkan siapa yang berhak mendapatkan hadiah, setiap anak berdebar dalam hati,

Berharap mereka terpilih menjadi pemain drama terbaik, didalam hati mereka komat-kamit berdoa supaya Pak Guru menyebutkan nama mereka, dan mengundang keatas panggung agar diberikan hadiah, para orangtua pun ikut berdoa membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.



Pak Guru telah menaiki panggung dan menyebutkan sebuah nama..Ahha.. ternyata anak yang memerankan tokoh Pak Tua yang pemarah yang menjadi Juara. Dengan wajah yang berbinar anak itu sorak gembira.” Aku menang “ ucapnya sambil berteriak. Ia pun bergegas naik keatas panggung didampingi oleh kedua orangtuanya yang tampak bangga.

Tepuk tangan terdengar lagi, sang orangtua menatap sekeliling, menatap keseluruh hadirin dengan bangganya.



Pak Guru menyambut mereka,sebelum menyerahkan hadiah. “ ia sedikit bertanya kepada sang “ jagoan “ Nak, kamu memang hebat, pantas untuk mendapatkannya, Peranmu sebagai seorang yang pemarah memang bagus sekali, Apa rahasianya yach..sehingga kamu bisa tampil sebagus ini ? kamu pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik..” Tanya pak Guru, “coba ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..”



Sang Anak menjawab “ Terima Kasih atas hadiahnya Pak,

Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya dirumah, karena dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi Pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku seperti ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka bukan hal yang sulit untuk menjadi Pemarah seperti Ayah.



Tampak sang Ayah mulai tercenung, sang anak mulai melanjutkan, “… Ayah membesarkan saya dengan seperti ini,..Jadi peran yang saya mainkan sangat mudah buat saya…”



Senyap, usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap.  Begitupun kedua orangtua sang anak diatas panggung mereka tampak tertunduk, jika sebelumnya mereka sangat bangga, kini keadaannya berubah. Seakan mereka berdiri sebagai terdakwa dimuka pengadilan.

Mereka belajar sesuatu dihari itu, ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka.

BEKERJA UNTUK DIRI SENDIRI

Keberhasilan yang diraih atau kegagalan yang menimpa dapat ditelusuri jauh kedalam diri,karena andalah yang menentukan jalan semua ini bukan orang lain.  Hanya saja banyak orang tidak mau tanggung jawab itu karena bagi mereka mempertanggung jawabkannya adalah beban.  Padahal tak seorang pemimpin pun tak merasakan kebebasan setelah berani mempertanggung jawabkan kepemimpinannya.  Dan tanggung jawab tertingi untuk mencapai kebebasan murni adalah tanggung jawab atas diri sendiri.



Amatilah pikiranmu karena akan menjadi ucapanmu,amatilah ucapanmu karena akan menjadi tindakanmu dan amatilah tindakanmu karena akan menjadi nasibmu.

Ada seorang teman mengeluh tentang anak lelakinya yang usianya menginjak 23 tahun, setelah lulus kuliah hari-harinya dihabiskan untuk makan, tidur dan main keluar rumah sampai larut malam bahkan kadang pulang sampai subuh.  Bergagai upaya mulai dari nasehat sampai ocehan yang keluar dari mulut mereka agar anaknya mulai memikirkan pekerjaan.

“ Mas, tolong dong harus bagaimana lagi saya dan bapaknya nasehatin agar anak itu mau tergerak hatinya mau bekerja minimal tidak menganggur seperti ini.” Cerita ibunya dalam telephone.

“ baik insya Allah lusa saya akan mampir silaturrahmi ke rumah ibu.” Jawab saya.

Rapat internal terjadi antara saya dan kedua oarng tua serta anaknya ikut hadir.

“ Ini mas, coba lihat sudah besar begini maunya disuapin orangtua terus, kalau sudah begini bapaknya anak-anak kan salahinnya saya, yang ngga becus didik anak.” Kata si ibu

“ lah tugas saya kan cari duit, kerja buat kalian semua benar tidak mas,” tegas si bapak meminta penguatan pembenaran kata-katanya kepada saya.

Saya hanya diam saja, Nampak protes dari mereka dengan aksi saya.

“ Ini yang mau dibahas tentang anak ibu atau mau cari kebenaran masing-masing sich.” Saya mulai reaksi.

“ “ Ibu dengan pekerjaan dan tugasnya sudah benar dan bapak juga sudah benar, hanya saja tugas dan tanggung jawab tersebut harus bersama-sama, dimonitor, di arahkan dan dibicarakan satu sama lain apa saja kekurangan dari tanggung jawab tesebut.””

Mereka terdiam.

“Ibu bilang kepada saya kemarin ditelephone, kerja si Beno hanya makan, main dan tidur. Padahal sesungguhnya Beno itu sedang kerja, hanya saja kerja buat dirinya sendiri bukan untuk orang lain.”

“ Maksudnya mas apa nich.”  Kata Bapaknya Beno

“ Begini pak, kenapa Beno kerja untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain karena makna bekerja adalah melayani baru menghasilkan.  Seperti ibu bilang “beno kerjanya hanya tidur.” Sesungguhnya beno sedang bekerja bu, kerjanya ya tidur itu, untuk melayani ya melayani dirinya sendiri dan menghasilkan yaitu menghasilkan air liur ( iler ) dan mimpi untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain.”

Dan lantas yang diinginkan Ibu dan bapak kan, Beno harus bekerja dan meghasilkan sesuatu untuk masa depannya.

Karena bekerja sesunggguhnya adalah melayani dahulu, dalam melayani  pasti banyak menemui kritik, berupa ketidak puasan dan lain sebagainya dan bilamana ketidak puasan itu diterima dan di perbaiki agar orang lain puas maka orang tersebut akan memberikan sesuatu atas pelayanan tersebut. Ini yang dinamakan menghasilkan.    

Seperti tukang baso yang berada didepan rumah itu, dia harus melayani orang yang memesan bilamana ada yang kurang pasti orang tersebut akan bilang, “ sausnya kebanyakanlah, kurang garamlah, atau kurang pedas.” Itu harus diterima oleh si tukang baso demi pelanggannya puas dan setelah itu pasti akan dibayar.

“ Apakah Beno sudah siap untuk kerja.” Kata saya yang ditujukan ke Beno.

“ Beno sudah siap Om.”

Sebelum Beno siap kerja diluar, Beno benahi dahulu pekerjaan internal dirumah ini buat dasar latihan melayani orang lain. Layani kedua orang tua mu dan adik-adikmu jangan sungkan bila mana ada yang harus kamu kerjakan lakukanlah seperti menyapu, cuci baju sendiri, genteng bocor  dan lainnya.  Karena dengan bekal itu bisa kamu bawa untuk kerja diluar.( bentengi diri dahulu )



Akan halnya seperti kita masih sekolah dulu, orang tua, guru hanya memberi support dan jalan untuk langkah kita selanjutnya, tetapi untuk bisa melangkah atau naik kelas kita sendirilah yang bertanggung jawab.



Setelah seminggu berlalu dapat khabar perubahan terjadi pada Beno.

MEMBELI WAKTU

Gaji Papa Berapa?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. "Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Andrew

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa..."

Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew.

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".

"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan anaknya





Pantaskah anda mengeluh? Padahal anda telah dikaruniai sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia. Layakkah anda berkeluh kesah? Padahal anda telah dianugerahi kecerdasan yang memungkinkan anda untuk membenahi segala sesuatunya.

Apakah anda bermaksud untuk menyia-nyiakan semuanya itu? lantas menyingkirkan beban dan tanggung jawab anda? Janganlah kekuatan yang ada pada diri anda, terjungkal karena anda berkeluh kesah. Ayo tegarkan hati anda. Tegakkan bahu. Jangan biarkan semangat hilang hanya karena anda tidak tahu jawaban dari masalah anda tersebut.

Jangan biarkan kelelahan menghujamkan keunggulan kamu. Ambillah sebuah nafas dalam-dalam. Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benak anda. Lalu temukan lagi secercah cahaya dibalik awan mendung. Dan mulailah ambil langkah baru

Cinta seorang Ibu

Alkisah disuatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak laki-laki satu-satunya.  Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.



Sang ibu seringkali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.  Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu Ayam dan banyak lagi yang membuat si Ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitu si ibu selalu berdoa kepada Tuhan, “ Tuhan tolong Kau sadarkan anakku yang kusayangi, supaya Ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi, Aku sudah tua dan ingin menyaksikan ia bertobat sebelum aku mati.”



Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia masuk keluar Bui karena kejahatan yang dilakukannya.



Suatu hari ia kembali mencuri dirumah penduduk desa, namun malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan lewat, kemudian ia dibawa kehadapan sang Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di kerajaan tersebut. Setelah ditimbang sesuai dengan tabiat kebiasaannya suka mencuri, maka tanpa ampun lagi sianak di jatuhi hukuman Pancung. Pengumuman hukuman itu disebarkan keseluruh pelosok desa, hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya didepan rakyat desa dan kerajaan tepat pada saat lonceng kuil berdentang menandakan jam enam pagi.



Berita hukuman itu sampai juga ke telinga sang ibu,dia menangis, meratapi anak yang dikasihinya, sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan, “ Tuhan ampunilah anak hamba, biar hamba yang menanggung segala dosa dan kesalahannya.” Dengan tertatih-tatih dia mendatangi Raja dan berlutut memohon supaya anaknya dibebaskan.  Keputusan itu sudah bulat sianak tetap harus menjalani hukuman.

Dengan hati hancur si ibu kembali ke rumah, tidak berhenti dia berdoa kepada Tuhan supaya anaknya diampuni..



Keesokan harinya penduduk berbondong-bondong sudah berkumpul ditempat eksekusi hukuman pancung. Sang Algojo sudah siap dengan alat pancungnya,sianak sudah tak berdaya dan pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang dimatanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya.



Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba, sampai waktu yang ditentukan lonceng kuil belum juga berdentang, susanana mulai berisik sudah lima menit berlalu lonceng tersebut belum juga berbunyi, akhirnya disuruhlah salah satu prajurit  untuk menemui sang petugas kuil tersebut, dia menanyakan kenapa lonceng tersebut tidak berbunyi,” sang petugas juga tampak heran, sedari tadi dia sudah menarik tali lonceng tetapi…tiba-tiba dari tali tersebut menetes darah yang membasahi tangan si petugas,darah tersebut menetes sangat deras mulai dari atas lonceng diikat.

Seluruh penduduk ramai mendatangi dan berdebar apa sebenarnya yang terjadi dan beberapa orang naik keatas untuk menyelidiki ?



Ternyata didalam lonceng besar itu ditemui tubuh si Ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah, Dia memeluk bandul didalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanyalah yang terbentur kedinding lonceng.

Seluruh Orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan airmata, sementara si anak meraung-raung memeluk dan menangisi tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Dia menyesali dirinya yang sudah menyusahkan Ibunya.

Ternyata malam itu setelah berdoa si ibu dengan susah payah memanjat dan naik keatas tempat lonceng itu berada dan mengikatkan dirinya ke dalam lonceng tepat di besi badul tersebut.dengan alasan agar lonceng itu tidak berbunyi pada saat eksekusi jam enam pagi demi ingin menyelamatkan anaknya dari hukuman pancung.



Demikianlah, sangat jelas kasih seorang Ibu untuk anaknya, betapapun jahatnya si anak seorang ibu tak akan rela anaknya terluka, karena Dialah yang melahirkan dan merawat dengan penuh pengorbanan siang dan malam, walaupun dikemudian hari terkadang sumpah serapah, caci maki  terlontar untuk dirinya dari si Anak.



Marilah kita mengasihi orang tua kita masing-masing selagi kita masih mampu karena mereka, kita bisa berada didunia dan  menjadi khalifah.di alam ini.