Minggu, 02 Oktober 2011

Cinta seorang Ibu

Alkisah disuatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak laki-laki satu-satunya.  Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.



Sang ibu seringkali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.  Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu Ayam dan banyak lagi yang membuat si Ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitu si ibu selalu berdoa kepada Tuhan, “ Tuhan tolong Kau sadarkan anakku yang kusayangi, supaya Ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi, Aku sudah tua dan ingin menyaksikan ia bertobat sebelum aku mati.”



Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia masuk keluar Bui karena kejahatan yang dilakukannya.



Suatu hari ia kembali mencuri dirumah penduduk desa, namun malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan lewat, kemudian ia dibawa kehadapan sang Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di kerajaan tersebut. Setelah ditimbang sesuai dengan tabiat kebiasaannya suka mencuri, maka tanpa ampun lagi sianak di jatuhi hukuman Pancung. Pengumuman hukuman itu disebarkan keseluruh pelosok desa, hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya didepan rakyat desa dan kerajaan tepat pada saat lonceng kuil berdentang menandakan jam enam pagi.



Berita hukuman itu sampai juga ke telinga sang ibu,dia menangis, meratapi anak yang dikasihinya, sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan, “ Tuhan ampunilah anak hamba, biar hamba yang menanggung segala dosa dan kesalahannya.” Dengan tertatih-tatih dia mendatangi Raja dan berlutut memohon supaya anaknya dibebaskan.  Keputusan itu sudah bulat sianak tetap harus menjalani hukuman.

Dengan hati hancur si ibu kembali ke rumah, tidak berhenti dia berdoa kepada Tuhan supaya anaknya diampuni..



Keesokan harinya penduduk berbondong-bondong sudah berkumpul ditempat eksekusi hukuman pancung. Sang Algojo sudah siap dengan alat pancungnya,sianak sudah tak berdaya dan pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang dimatanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya.



Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba, sampai waktu yang ditentukan lonceng kuil belum juga berdentang, susanana mulai berisik sudah lima menit berlalu lonceng tersebut belum juga berbunyi, akhirnya disuruhlah salah satu prajurit  untuk menemui sang petugas kuil tersebut, dia menanyakan kenapa lonceng tersebut tidak berbunyi,” sang petugas juga tampak heran, sedari tadi dia sudah menarik tali lonceng tetapi…tiba-tiba dari tali tersebut menetes darah yang membasahi tangan si petugas,darah tersebut menetes sangat deras mulai dari atas lonceng diikat.

Seluruh penduduk ramai mendatangi dan berdebar apa sebenarnya yang terjadi dan beberapa orang naik keatas untuk menyelidiki ?



Ternyata didalam lonceng besar itu ditemui tubuh si Ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah, Dia memeluk bandul didalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanyalah yang terbentur kedinding lonceng.

Seluruh Orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan airmata, sementara si anak meraung-raung memeluk dan menangisi tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Dia menyesali dirinya yang sudah menyusahkan Ibunya.

Ternyata malam itu setelah berdoa si ibu dengan susah payah memanjat dan naik keatas tempat lonceng itu berada dan mengikatkan dirinya ke dalam lonceng tepat di besi badul tersebut.dengan alasan agar lonceng itu tidak berbunyi pada saat eksekusi jam enam pagi demi ingin menyelamatkan anaknya dari hukuman pancung.



Demikianlah, sangat jelas kasih seorang Ibu untuk anaknya, betapapun jahatnya si anak seorang ibu tak akan rela anaknya terluka, karena Dialah yang melahirkan dan merawat dengan penuh pengorbanan siang dan malam, walaupun dikemudian hari terkadang sumpah serapah, caci maki  terlontar untuk dirinya dari si Anak.



Marilah kita mengasihi orang tua kita masing-masing selagi kita masih mampu karena mereka, kita bisa berada didunia dan  menjadi khalifah.di alam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar