Minggu, 02 Oktober 2011

WARISANKU DARI KECIL

Saya hidup dari keluarga menengah, ayahku seorang pelaut diperusahaan BUMN, beliau pulang bisa 6 bulan, 1 tahun bahkan bisa mencapai 2 tahun.

Sepintas pekerjaan tersebut seperti biasa saja tetapi bagiku pekerjaan beliau sangat mulia, karena saya menilai bahwa sebagai seorang pelaut harus mempunyai jiwa dan perasaan yang luar biasa, siap meninggalkan anak dan istri yang cukup lama dan harus siap menghadapi ombak dan gelombang kehidupan yang nyata dalam kesehariannya.

Sebelum berangkat untuk pergi berlayar, banyak persiapan yang beliau berikan kepada keluarga ini salah satunya adalah saya, karena saya adalah anak lelaki satu-satunya dari lima kakak perempuan dan satu adik perempuanku.  Beliau selalu memberikan warisan berupa amanah kepada saya untuk menjaga keluarga ini serta sebuah peti kayu yang berisi peralatan perkakas seperti gergaji, palu / martil, obeng dan lain sebagainya.

Warisan amanah itu adalah

“ Kamu harus menjaga Ibu, kakak serta adik kamu selama saya tidak dirumah, jaga harga diri dan kehormatan mereka sebagai perempuan, lakukan apa saja oleh kamu bila itu benar  terhadap mereka.”

Dan warisan yang kedua adalah

“ Peralatan ini adalah sarana untuk menjadikan tangan  kamu untuk bekerja, lakukan bila ada yang harus kamu lakukan dirumah ini.”

Itulah momen dimana setiap Ayahku akan berangkat bekerja, biasanya setelah pulang beliau akan bertanya apa saja yang terjadi pada saat beliau tidak ada, sebelum beliau memberikan hadiah atau sesuatu.  Dan tak lupa biasanya beliau menanyakan pertanggung jawaban dari masing-masing keluarga ini.

Ayahku berasal dari propinsi Kalimantan, sebelum beliau menjadi pelaut baground beliau adalah seorang Guru ditempat beliau tinggal, karena satu hal akhirnya mendaftarkan diri menjadi TNI yang ditugaskan Ke Jakarta, Bandung, dan daerah lainnya sebagai tugas pengabdian terhadap Negara.  Setelah menikah dengan Ibuku dan mempunyai beberapa anak, akhirnya Beliau hijrah dan mengabdi menjadi pelaut.

Warisan yang ku sebutkan tadi mungkin sebagian orang menganggap tidak berarti, tetapi bagi saya itu adalah sebuah warisan yang sangat berharga dibanding dengan warisan berupa materi, karena dari bekal hal tersebut sebuah motivasi dan pembelajaran yang saya dapat bahwa untuk dijadikan bekal hidup saya dimasa akan datang.

Warisan yang sering saya dapat dari nasehatnya adalah bahwa kita jangan tergantung dengan orang lain, sikap perduli ditanamkan, sikap jangan pantang menyerah, gunakan tanganmu untuk bekerja melayani orang lain. Sebelum kamu melayani orang lain, layani dahulu dirimu sendiri.



Perjuangan hidup yang beliau alami ditanamkan kepada keluarga khususnya saya sebagai laki-laki, bahwa langkah seorang lelaki harus panjang karena selain menjadi imam pertanggung jawaban untuk dunia dan akherat harus dipikul dipundaknya.

sebelum Ayah saya meninggal dunia, beliau sempat mengajak saya untuk pulang ke kampung halamanNya.

“ Kalau kamu ingin warisan, coba kamu lihat sekitar kamu !, apakah kita pantas mengambil dari mereka, yang setiap hari mengurusnya adalah mereka, sementara kita yang jauh dan datang dengan tiba-tiba ingin mengambil dan meminta jatah kita.”

“ Jangan kamu tergantung dari harta ini, kamu harus berusaha sendiri dengan tangan dan otakmu, karena meninggalkan materi akan habis bahkan bisa menjadi perpecahan satu sama lain.”



Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkwalitas.



Dari bekal motivasi beliau banyak hal yang bisa saya dapat dan lakukan sekarang.

Terima kasih Ayah “ YOU ARE MY BEST.”

Keberhasilan tak diperoleh begitu saja

Keberhasilan tak diperoleh begitu saja. Ia adalah buah dari pohon kerja keras yang berjuang untuk tumbuh. Jangan terlalu berharap pada kemujuran. Apakah kalian tahu apa itu kemujuran? Apakah kalian dapat mendatangkan kemujuran sesuai keinginan kalian? Padahal kita tahu, kita tak selalu mampu menjelaskan dari mana datangnya.

Sadarilah bahwa segala sesuatu berjalan secara alami dan semestinya. Layaknya proses mendaki tangga, kalian melangkahkan kaki kalian melalui anak tangga satu per satu. Tak perlu repot-repot membuang waktu kalian untuk mencari jalan pintas, karena memang tak ada jalan pintas. Sesungguhnya kemudahan jalan pintas itu takkan pernah memberikan kepuasan sejati. Untuk apa kalian berhasil jika kalian tak merasa puas?

Hargailah setiap langkah kecil yang membawa anda maju. Janganlah melangkah dengan ketergesaan, karena ketergesaan adalah beban yang memberati langkah saja.

Amatilah jalan lurus kalian. Tak peduli bergelombang maupun berbatu, selama kalian yakin berada di jalan yang tepat, maka melangkahlah terus. Ketahuilah, jalan yang tepat itu adalah jalan yang menuntun kalian menjadi diri kalian sendiri.

PERUBAHAN

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11




Samuel Smiles mengawalinya dengan gagasan atau pikiran. Tanamlah gagasan, petiklah tindakan. Tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah watak. Tanamlah watak, petiklah nasib. Dimulai dari gagasan yang diwujudkan dalam tindakan, kemudian tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berkali-kali akan menjelma menjadi watak, dan watak inilah yang akhirnya mengantarkan kita kepada nasib. Jadi nasib kita, kita sendirilah yang menentukan. Nasib
kita ada di tangan kita.
Dahulu, ada seorang jenderal dari negeri Tiongkok kuno yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan melawan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat lebih banyak. Mendengar kondisi musuh yang tak seimbang, seluruh prajuritnya gentar, kalau-kalau mereka akan menderita kekalahan. Dalam perjalanan menuju medan perang, sang Jenderal berhenti di sebuah altar vihara. Ia melakukan sembahyang dan berdoa meminta petunjuk para dewa. Sedangkan rajuritnya menanti di luar vihara dengan harap-harap cemas. Tak lama kemudian, sang jenderal keluar dari vihara.Ia berteriak pada seluruh pasukannya, ‘Kita telah mendapat petunjuk dari langit’. Lalu ia mengeluarkan koin emas simbol kerajaan dari sakunya. Sambil mengacungkan koin itu ke udara ia berkata, ‘Sekarang, kita lihat apa kata nasib. Mari kita adakan toss. Bila kepala yang muncul maka kita akan menang. Tapi bila ekor yang muncul, kita akan kalah. Hidup kita tergantung pada ‘. Jenderal lalu melempar koin emas itu ke udara. Koin emas pun berputar-putar di udara. Lalu jatuh berguling-guling ditanah. Seluruh pasukan mengamati apa yang muncul. Setelah agak lama menggelinding ke sana-kemari, koin itu terhenti. Dan yang muncul adalah KEPALA. Kontan seluruh pasukan berteriak kesenangan. ‘Hore! Kita akan menang. Nasib berpihak pada kita! Ayo, serbu dan hancurkan musuh. Kemenangan sudahlah pasti.’ Dengan penuh semangat sang Jenderal dan pasukannya bergerak menuju medan perang. Pertempuran berlangsung sangat sengit. Dengan bekal keyakinan dan tekad baja akhirnya musuh yang tak terhingga banyaknya dapat dikalahkan. Jenderal dan seluruh pasukannya betul-betul senang. Seorang prajurit berkata,’Sudah kehendak langit, maka tak ada yang bisa mengubah nasib’.Sesampai di ibu kota mereka disambut meriah oleh seluruh penduduk. Raja pun terkagum-kagum mendengar kisah peperangan yang dahsyat itu. Beliau bertanya pada sang Jenderal, bagaimana ia mampu mengobarkan semangat pasukannya hingga begitu gagah berani. Sang Jenderal kemudian menyerahkan koin emasnya pada Raja sambil berkata, ‘Paduka, inilah yang memberikan mereka nasib baik’. Raja menerima dan mengamati koin emas itu yang ternyata kedua sisinya bergambar KEPALA.
Allah akan mengubah nasib ketika kita berusaha maksimal untuk mewujudkan keinginan kita. Berusaha mengubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. karena rizki dan pertolongan Allah datang dari tempat yang tidak kita duga-duga.
Kita dapat mensugesti alam bawah sadar kita agar alam bawah sadar kita yang bekerja untuk mewujudkan keinginan kita. karena alam bawah sadar menyimpan energi sebesar 88% yang tidak kita gunakan.

PENCAPAIAN MAKSIMAL

Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.

Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :

* Langkah pertama adalah perluas wawasan.

Anda harus memandang kehidupan ini  dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap
aspek kehidupanmu.

* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat.

 Itu artinya Anda harus melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri

* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.

Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia
akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alquran memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.

* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi...

Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu
selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.





* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun

Kita harus bersikap :" Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana." Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup
berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.


* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar

yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.

* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini.

Anda tidak harus menunggu
sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu,
sekarang juga !

MOTIVASI DIRI

Adalah keliru menuntut orang lain memotivasi anda.  Tak seorangpun bertanggung jawab atas timbul tenggelamnya motivasi itu didalam diri anda, melainkan anda sendiri

Orang tua, atasan serta pidato para motivator yang menggebu-gebu, program pelatihan yang menggairahkan atau pernyataan-pernyataan visi dengan kalimat yang indah, semua itu hanya usaha mengetuk pintu motivasi diri anda, bila anda tak berkenan membukanya dengan gedoran sekeras apapun takkan berguna.  Karena andalah yang bertanggung jawab atas perjalanan karir dan hidup anda, maka bangunlah, bangunkan diri anda sendiri.



Anda pun tidak bertanggung jawab pada naik turunnya motivasi orang lain, karena anda tidak selalu tahu apa harapan mereka.  Motivasi selalu bertalian dengan harapan, sediakan tempat bagi mereka untuk memenuhi harapan bersama antara anda dan mereka.  Kemudian bekerjalah bahu membahu untuk mewujudkannya.

Motivasi bisa muncul darimana saja dari kegembiraan, ketakutan, kegagalan bahkan kesedihan.

Bila anda seorang pekerja, mulailah dari apa yang menjadi tujuan anda bekerja.



Karena tingkat kesuksesan anda tergantung dari satu orang, yaitu anda sendiri.  Apa yang mampu anda kerahkan dalam hidup, adalah apa yang akan anda dapat dari hidup karena anda tidak bisa meminjam atau mencuri dari kesuksesan orang lain, memang orang lain dapat memberikan dorongan atau support, tetapi yang dapat memicu terjadinya motivasi dalam diri yaitu diri sendiri.

Anda tidak perlu menjadi orang lain untuk dapat membuat dunia berbeda, setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk memicunya.



Apakah anda tertarik untuk memotivasi diri sendiri, maka siapkan hasrat untuk perubahan karena dunia akan memberikan jalan.

KULIAH GRATIS

Banyak komentar dari pertanyaan tersebut.

“ Masa sich mas ada kuliah yang gratis, lah wong anakku masuk sekolah PAUD saja bayar.”

“ Mungkin dapat bea siswa kali yach.”

“ Mana ada yang gratis untuk pendidikan, mau ke toilet umum saja bayar.”



Begitulah kira-kira sebagian orang menanggapinya, sepenggal kata tersebut membuat mereka berfikir bahwasannya kuliah identik dengan perguruan tinggi, biaya yang mahal, lulus kuliah harus bekerja dan masih banyak lagi pemikiran-pemikiran tentang hal tersebut.

Sebenarnya Jujur saya katakan bahwasannya pemikiran mereka benar adanya, mereka menyebutnya dengan bilangan dan pemikiran secara materi dan formal diatas pendidikan.

Akan tetapi yang saya maksudkan dengan kuliah gratis bukan secara formal dengan pendidikan dibangku atau pun secara nyata duduk disekolahan, kuliah gratis yang saya maksud dengan sebenarnya yaitu kita bisa belajar secara alami dan terbuka dimana saja tanpa biaya sepeserpun, belajar dipasar, belajar dijalan, belajar dikantor,dirumah bahkan dimanapun anda berada.

“ lah kok bisa mas. “ Tanya teman saya.

“ lah wong ular saja ada bisanya.” Canda saya.

Maksud saya adalah kuliah bukan sebenarnya kuliah yang kamu bayangkan. Kuliah yang saya artikan disini bahwasannya kita bisa berlajar dari setiap manusia, dari alam bahkan dari binatang, yang banyak orang sebut dengan nama otodidak, seperti bagaimana menjadi berhasil dalam pekerjaan, bagaimana bisa menjadi sekarang, bagaimana kamu melakukan apa yang orang lain tidak bisa dan kamu bisa lakukan dan banyak hal dalam keseharian yang bisa dijadikan pelajaran.

Terinspirasi dari Thomas alpha Edison, bahwasannya untuk menciptakan bola lampu saja uji coba yang dilakukan bukan hanya 1 atau sampai 10 kali, beliau melakukan uji coba sampai dengan angka berkali-kali, minta pendapat dari teman bahkan dari orang yang tidak dikenalnya.

“ Mas aku minder deh dengan teman dikantor dan dilingkungan saudara-saudaraku, dengan keterbatasan aku yang cuma tamat sampai dengan SLTA.”  Tanya temanku mencoba mencari jawaban atas kegelisannya.

“ Mindernya karena apa ? karena kamu bukan lulusan kuliahan.” Tanya saya.

“ Betul Mas.” Jawab temanku lagi.

“ Kamu tidak usah minder dengan masalah status kamu, yang terpenting niatkan saja dahulu keinginan kamu untuk kuliah, rubah paradigma pemikiran kamu jadikan dan percaya dengan dirImu bahwa kamu sebenarnya anak kuliahan, jangan biarkan dirimu menjadi kecil karena hanya dengan selembar kertas status kesarjanaan, sekarang kamu bekerja dengan status ijazah SLTA rubah kualitas kamu sekarang dengan kerangka mental dan moral anak kuliahan, jika kamu bisa merubah semua itu kwantitas kamu akan berubah, mudah-mudahan dipertengahan jalan dengan niat akan tercapai.”

Belajar dari keseharian dimanapun berada jadikan penglihatan, pendengaran kita untuk mendapatkan kuliah secara alami yang mungkin tanpa kita sadari bahwa sebenarnya itu adalah guru dan bekal pembelajaran untuk kita maknai dan artikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi MURAHAN atau MAHAL.

Terinspirasi dari cerita seorang Ibu di tempat warung makan khas sumatera barat, pada saat itu saya bersama isteri dan anak sedang menunggu pesanan makan siang.  Tidak sengaja saya mendengar percakapan mereka yang ternyata seorang Ibu sedang memarahi anaknya  gadis dengan usia kira-kira 19 tahun dengan masih memegang sendok dan garpu, sepertinya itu suapan ke mulut yang terakhir, batinku.

“ Kamu bagaimana sich, jadi anak kok murahan banget.

“ Siapa yang murahan bu, saya kan pergi  ke rumah teman itu aja kok.

“ Bohong kamu, setiap hari ada saja tetangga yang laporan ke Ibu, kamu sering pergi dan datang kerumah  cowok yang ngga jelas itu..kamu tuh sadar seharusnya kamu bisa jaga kehormatan kamu sebagai wanita, bukan pergi ngga jelas gitu.!”

Si Anak bukannya mendengar dan menerima apa yang barusan di perintahkan oleh Ibunya, melainkan pergi begitu saja dengan sedikit ngedumel, “ Dasar orang tua Kuno, ngga tahu jaman anak muda sekarang.”

Ibu nya mendengar umpatan si anak hanya mengusap dada dan berucap, “ Ya Allah ternyata dunia dan jaman sudah terbalik.” 



Sepulangnya  dari  tempat  makan tersebut,   ditengah jalan isteri saya sedikit komentar

 “ Dasar Durhaka tuh Anak, belum tahu aja nanti kalau sudah menikah dan punya anak, biar tahu rasa ngelahirin anak tuh susah dan sakit taruhannya nyawa. “



Dari hal tersebut diatas, otak saya merekam semuanya sambil coba menganalisa untuk membuat sebuah kesimpulan dalam diri saya.



Murah = Murahan.

Barangkali bila kita bisa melihat disekitar kita untuk mencari contoh atau gambaran tentang apa kata Murah.

Hampir kita sering melihat atau belanja disebuah toko antara yang berada di Etalase dengan yang berada diluar etalase ( di pajang  diluar),  mungkin sepintas harga dan kualitas hampir sama, tetapi bila diamati lebih seksama terdapat perbedaan yang sangat jauh. Bilamana yang dipajang bisa dipegang, diraba, dicium atau dirasakan dengan panca indra, maka sangat wajar barang tersebut bila di nilai harganya sampai sangat murah, akan tetapi bilamana yang berada di etalase hanya pengamatan mata saja yang bisa di nikmati, bila semakin dinikmati rasa penasaran akan tercipta dalam diri kita untuk bertanya tentang harga barang tersebut bahkan semakin keinginan kuat untuk membeli walaupun dengan harga yang mahal sekalipun.

Bagaimana dengan ucapan Ibu tadi yang mengatakan bahwa anaknya Murahan.

Kodrat wanita adalah harus menjaga kehormatan dirinya, bukan hanya kehormatan secara fisik akan tetapi kehormatan harga diri sebagai wanita, karena semakin dijaga dengan baik kehormatannya, maka semakin MAHAL  harga diri wanita tersebut, bukan menjadi MURAHAN yang bisa di obral kemanapun. Dan untuk menjadi mahal yang pasti butuh pengorbanan.

Lantas siapa yang menjadikan harga diri dan kehormatan itu menjadi MAHAL  atau MURAHAN.

Jawabnya Ya wanita itu sendiri yang tertuang dari sikap, tutur kata /attitude dalam keseharian.



Menyambung ucapan Ibu nya tadi “ Jaman sudah berubah.”

Sebenarnya yang berubah jaman atau perilaku manusia, bila melihat sekarang dengan mengembalikan ingatan kita ke masa 10 tahun kebelakang perubahan apa yang terjadi.

“ Apa yang berubah dari sekarang “

“” Dahulu disini hanya sebuah tanah kosong, sekarang sudah banyak bangunan besar dan indah.””

“” 10 tahun kemarin jalan ini belum ada selebar dan sekuat ini, sekarang jalan utama sudah ada melalui Fly Over dan Under ground.

Mungkin masih banyak lagi perubahan-perubahan yang terjadi.  Kalau sudah begini apakah jaman atau dunia sudah berubah ?”

Manusianya lah yang merubah semuanya, dunia hanya sebatas media, sementara jaman hanya mengikuti waktu untuk merubah hari menjadi tahun, seriring berjalannya waktu perubahan perilaku dan perubahan material saling tumbuh.

Sering ada anggapan  bahkan menyalahkan…. “ dunia sudah edan “, ……

sebenarnya yang edan adalah perilaku manusianya sehubungan dengan waktunya orang-orang itu menjadi edan, bukan dunia yang patut disalahkan.









Menyikapi MURAHAN atau MAHAL dalam kontek perilaku manusia dalam bekerja.

Mari kita ingat semboyan antara kualitas dan kwantitas bahwasannya kwantitas akan mengikuti kualitas

Seseorang akan mendapatkan harga sebuah penilaian menjadi  Murah kwantitasnya bila kualitasnya rendah atau murah, begitupun sebaliknya.

Karyawan sebuah perusahaan jasa disebuah pelayanan transportasi bercerita kepada saya tentang masalah pekerjaan bahkan sampai masalah pendapatan yang menurut dia perusahaan tempatnya bekerja tidak adil. “ Apa yang menjadi tidak adil dalam diri anda.” Tanya saya.

“ Ya segalanya, mulai dari pekerjaan dan pendapatan.” Jawab dia.

Saya coba mulai koreksi “ Apakah anda sudah sadar batas ketidak adilan yang menurut anda tidak sampai pada diri anda, dan apakah sudah anda pikirkan kenapa perbedaan itu terjadi yang mengakibatkan harga sebuah kualitas tidak seimbang dengan kwantitas diri anda, coba anda refresh ke belakang mulai dari anda masuk pertama kali kerja diperusahaan tersebut dari jabatan, pekerjaan, suasana kerja sampai bos atau pimpinan anda.  Coba gali kembali apa yang ada didalam diri anda temukan letak ketidak adilan tersebut dengan menutupinya yaitu perubahan.

Karena bila kualitas kerja anda mahal, maka kwantitas ( materi ) akan mengikuti, seperti bayangan yang ada didalam diri anda.



Jadi yang menjadikan MURAH atau MAHAL harga diri kita yaitu sikap dan perilaku diri sendiri.

                                            “””””””””””””””’Percaya atau tidak”””””””””””””””””””””””””’