Follow by Email

Minggu, 02 Oktober 2011

BEKERJA KARENA TERPAKSA = KERJA PAKSA

Suatu ketika didalam bus jurusan Jakarta Merak yang saya tumpangi untuk pulang ke Jakarta tanpa sengaja disampingku duduk seorang pemuda menurut pengamatan usianya sekitar 24 tahun, dia seorang pedagang makanan khas daerah setempat, karena lapar menunggu bus yang ngetem menunggu penumpang, apa salahnya saya membeli 2 buah telur asin berikut lontong beras dagangannya.

Saya lantas mengakrabkan diri untuk ngobrol untuk sesaat.

“ Jualan seperti ini sudah lama kang.” Tanyaku

“ Iya mas sudah 10 tahun, mas mau ke Jakarta.” Balik bertanya dia.

Saya mengangguk membenarkan perkataannya, sambil berpikir,” kalau usia menurut taksiranku 24 tahun berarti dia sudah jualan usia 10 tahun.” Hebat sekali.

“ apa tidak bosan jualan seperti ini kang.” Tanyaku lagi.

“ Ya bosan juga sih tapi terpaksalah mas, untuk menghidupi anak istri, habis mau kerja apalagi tamatan saya Cuma sekolah madrasah, kalau tidak jualan dirumah mau makan apa.! kadang saya ikut nandur disawah, upahnya lumayan.” Dengan ucapan datar dan berbinar dia utarakan.

Ingin rasanya ngobrol lebih lanjut, tetapi bus sudah mulai jalan dan kuucapkan terima kasih kepadanya semoga kita bertemu lagi sobat. Mungkin banyak hal akan kau utarakan.

Dalam perjalanan itu saya coba meresapi kembali “ kerja karena terpaksa.” Apa sama dengan “kerja paksa.”

Jika kita gali isi hatinya yang paling dalam, mungkin waktu sekolah dulu dia tidak pernah bercita-cita menjadi pedagang asongan, saat ditanya pada waktu duduk di bangku Sekolah Dasar, pasti yang keluar dari mulut kecilnya adalah keinginan menjadi Dokter, pengusaha bahkan mungkin pejabat atau Presiden.  Akibat tekanan hidup dan lemahnya ekonomi  dia terpaksa menjadi seperti itu. Jangankan menjadi pedagang asongan sebenarnya seperti pembantu rumah tangga, buruh dan pekerja kasar lainnya tidak pernah bercita-cita mejalani profesinya itu.  Ketika Guru dibangku Sekolah Dasar menanyakan cita-cita mereka, tidak ada satupun yang mengacungkan jari sambil mengucap dengan lantang “ Saya ingin jadi pedagang asongan.”

Tetapi kenyataannya, bukan hanya orang-orang seperti mereka yang menjalani pekerjaannya dengan terpaksa.  Faktanya kebanyakan orang bekerja dengan terpaksa, meskipun mereka bekerja ditempat-tempat yang lebih bermewah atau berkelas.  Parahnya lagi keterpaksaan itu harus diterima sepanjang hidupnya.

Lalu jika kita bekerja karena terpaksa seumur hidup, kita patut bertanya, berapa tahun jiwa kita menjerit.

 Gaji bulanan yang mencukupi, plus tunjangan-tunjangan lainnya.  Nama perusahaan menjadi status hebat seseorang.  Tapi ada juga yang sudah mendapatkan semua itu, hidupnya masih saja tidak bersyukur, setiap hari mengeluh dan menggerutu.

Pada awal sebelum masuk dan menjalani test masuk kerja mereka sangat antusias dan bahkan menjual kehebatan dirinya agar ia bisa menjadi karyawan dikantor itu, Namun setelah dikasih pekerjaan malah pusing dan stress.

Banyak orang yang masih terpaksa dengan pekerjaannya. Padahal hidup kita semakin kosong dan bermasalah apabila kita lagi-lagi merasa terpaksa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar